Pesan sekarang!

Ada pertanyaan? Kirim email ke kami

Ahli Ungkap Isu Bahaya BPA pada Galon AMDK Berbahan PC Belum Ada Bukti Klinis

  • Selasa, 07 Juli 2026 | 09:35 WIB
Galon Aurafit dan Gonxha.

Isu BPA pada galon isi ulang berbahan polikarbobat (PC) kerap memunculkan kekhawatiran di masyarakat, padahal sejumlah pakar menilai informasi yang beredar sering kali tidak menjelaskan konteks ilmiahnya secara utuh.

Penjelasan yang lebih proporsional dibutuhkan agar konsumen bisa memahami perbedaan antara potensi risiko, ambang batas aman, dan hasil pengujian yang sudah dilakukan.

BPA (Bisphenol A) adalah senyawa kimia sintetis yang digunakan dalam pembuatan plastik polikarbonat (PC) dan resin epoksi. Bahan ini umum ditemukan pada wadah makanan, galon, botol minum, dan kemasan kaleng untuk membuat plastik lebih keras dan tidak mudah rusak.

BPA dapat larut (migrasi) ke dalam makanan atau minuman, terutama saat kemasan terkena panas atau dicuci berulang kali.

Senyawa ini dikenal sebagai pengganggu endokrin (zat yang meniru fungsi hormon estrogen). Paparan jangka panjang dalam jumlah berlebih dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, seperti gangguan sistem hormon dan reproduksi, penurunan kesuburan dan obesitas dan diabetes tipe 2.

BPA dan Mengapa Sering Dibahas

BPA adalah senyawa yang banyak dibicarakan dalam isu kemasan pangan, khususnya galon berbahan PC.

Para ahli menilai pembahasan BPA di Indonesia kerap digeneralisasi dan tidak selalu didukung oleh penjelasan ilmiah yang lengkap.

Yang sering luput dipahami adalah bahwa pembahasan keamanan kemasan tidak cukup hanya menyebut keberadaan suatu zat, tetapi juga perlu melihat kadar migrasi, standar keamanan, dan hasil uji yang relevan.

Karena itu, diskusi tentang BPA seharusnya ditempatkan dalam konteks yang lebih objektif.

Apa Kata Ahli

Dikutip dari Sinarharapan.net, ahli kimia yang merupakan Dosen Program Studi Kimia Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Handajaya Rusli, M.Si menyebut bahwa hingga saat ini belum ada laporan gangguan kesehatan yang secara langsung dikaitkan dengan konsumsi air dari galon PC di Eropa maupun negara lain. Ia juga menegaskan bahwa penggunaan PC di negara maju masih dikategorikan aman.

Dia menjelaskan bukan hanya BPA saja yang berbahaya, tapi semua senyawa kimia pembentuk kemasan plastik itu juga berbahaya karena sifatnya yang beracun.

“Makanya, perlu ada izin dari BPOM dulu sebelum kemasan plastik itu beredar di masyarakat. Produsennya sendiri juga sudah melakukan pengujian terlebih dulu terhadap kemasan yang mereka gunakan. Cuma, ya namanya isu ya, gitu lah seperti yang terjadi sekarang,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa selama ini penyampaian isu bahaya BPA galon guna ulang itu hanya berupa potensi-potensinya saja yang seringkali disebutkan. Tapi, menurutnya, tak satupun pihak yang pernah membuktikan bahayanya terhadap kesehatan masyarakat.

Dia menyampaikan bahwa biasanya isu seperti bahaya BPA galon guna ulang itu muncul kalau sudah ada penggantinya.

Menurutnya, galon plastik sekali pakai (PET) juga sering digunakan masyarakat secara berulang-ulang, padahal itu tidak diperbolehkan karena berbahaya juga bagi kesehatan.

“Saya lihat kemasan galon sekali pakai itu juga digunakan berulang-ulang sama pedagang-pedagang itu sampai kuning,” tuturnya.

Dia menegaskan bahwa para produsen menggunakan kemasan plastik itu karena mereka mau menyesuaikan dengan produk yang dijualnya. Misalnya, kalau mau menggunakan galon yang agak keras, produsen memang harus memilih plastik berbahan polikarbonat. Demikian juga kalau carinya yang elastis, biasanya yang digunakan itu yang plastik polietilena atau polipropilena.

Peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center Institut Pertanian Bogor (IPB), Nugraha Edhi Suyatma juga menjelaskan keunggulan kemasan galon guna ulang berbahan PC dibanding galon sekali pakai berbahan PET.

Galon guna ulang, kata dia, memiliki ketahanan gores dan benturan lebih baik dan suhu transisi gelas atau Tg yang lebih tinggi dibanding galon sekali pakai. Disebutkan, galon guna ulang memiliki Tg 150 derajat Celcius, sementara galon sekali pakai hanya 70 derajat Celcius. Semakin tinggi Tg, semakin tahan pada kondisi suhu tinggi.

“Kondisi ini membuat galon guna ulang tahan untuk dicuci dengan suhu panas antara 60-80 derajat Celcius dengan penyikatan menggunakan sikat plastik tanpa menyebabkan kerusakan pada permukaan kemasan,” ungkapnya.

Dilihat dari data absorpsi air, menunjukkan bahwa penyerapan galon guna ulang lebih rendah dibanding galon sekali pakai. “Sehingga, dapat dikatakan bahwa galon guna ulang lebih tahan terhadap air dibandingkan galon sekali pakai,” katanya.

Apa Kata BPOM?

Badan POM RI pernah menjelaskan bahwa hasil pengawasan terhadap kemasan galon AMDK berbahan PC menunjukkan migrasi BPA berada di bawah 0,01 bpj atau 10 mikrogram/kg, sehingga masih dalam batas aman. BPOM juga menetapkan batas maksimal migrasi BPA untuk kemasan pangan melalui regulasi yang berlaku.

Dengan adanya standar tersebut, keamanan galon tidak hanya didasarkan pada opini, tetapi pada pengujian dan ketentuan teknis yang sudah ditetapkan oleh otoritas resmi. Ini penting untuk dipahami agar konsumen tidak terjebak pada narasi yang menimbulkan kepanikan tanpa dasar yang seimbang.

Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan bahwa kemasan galon guna ulang yang saat ini beredar di masyarakat aman untuk dipakai.

Ditegaskan, BPOM terus mengawasi dengan ketat standar keamanan kemasan pangan produsen AMDK, yang paling penting adalah izin BPOM dan kemudian SNI.

“Yang sudah (berijin) Badan POM-nya sudah pasti aman. Karena kan salah satu persyaratan Badan POM mengeluarkan kalau kemasan itu sudah punya SNI kan. Jadi semua kemasan yang ber-SNI itu aman," katanya.

Mengapa Misinformasi Mudah Tersebar

Isu BPA sering cepat viral karena menyangkut kesehatan keluarga dan konsumsi harian. Namun, saat informasi disampaikan secara terpotong, publik bisa salah menangkap apakah yang dibahas adalah potensi, bukti klinis, atau sekadar kekhawatiran umum.

Para ahli menyoroti bahwa isu BPA di Indonesia kerap dibingkai secara berlebihan melalui media sosial. Akibatnya, yang menonjol justru rasa takut, bukan pemahaman yang berbasis data.

Konsumen sebaiknya menempatkan informasi BPA secara kritis: cek sumber, pahami konteks, dan bedakan antara dugaan risiko dengan hasil pengujian resmi.

Jika suatu produk sudah memenuhi standar keamanan dan lolos uji yang berlaku, maka keputusan konsumsi sebaiknya didasarkan pada data, bukan kepanikan.

Bagi konsumen air minum, langkah paling penting adalah memilih produk dari produsen yang jelas, mengikuti ketentuan penyimpanan yang benar, dan tetap merujuk pada informasi resmi dari otoritas terkait.

Dengan begitu, kekhawatiran bisa dikelola secara sehat tanpa mengorbankan rasa percaya terhadap kualitas produk.

Pada akhirnya, isu BPA pada galon guna ulang perlu dipahami secara proporsional. Informasi yang akurat, standar keamanan yang jelas, dan penjelasan pakar menjadi kunci agar masyarakat tidak terseret pada narasi yang menyesatkan.

Jangan khawatir pesan Aurafit dan Gonxha!

Order sekarang: https://wa.me/62877-7577-8789.